MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

Kakanwil Ditjenpas Sulsel Turun Langsung ke Rutan Masamba, Dari Keamanan hingga SAE Jadi Sorotan

Kakanwil Ditjenpas Sulsel Mulyadi saat meninjau fasilitas pelayanan dan pembinaan di Rutan Kelas IIB Masamba, Minggu 30 Agustus 2026.

MASAMBA, MATANUSANTARA — Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kakanwil Ditjenpas) Sulawesi Selatan (Sulsel) Mulyadi, turun langsung memastikan denyut pelayanan, pengamanan dan pembinaan berjalan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Masamba, Minggu (30/8/2026).

Bukan sekadar melihat kondisi dari balik meja, Mulyadi bersama rombongan menyusuri sejumlah titik di dalam Rutan Masamba. Dari blok hunian hingga fasilitas pelayanan, dari area warga binaan hingga Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), seluruhnya menjadi bagian dari pemantauan langsung.

Kunjungan kerja tersebut sekaligus menjadi ruang evaluasi bagi jajaran Rutan Masamba. Terlebih, kondisi pemasyarakatan tidak hanya dituntut aman dan tertib, tetapi juga harus mampu memberikan pelayanan yang layak serta pembinaan yang memiliki orientasi jelas terhadap perubahan warga binaan.

Didampingi Kepala Rutan (Karutan) Masamba Syamsul Bahri, Mulyadi meninjau sejumlah fasilitas, di antaranya ruang belajar, Klinik Pratama Rutan, dapur UMKM, ruang kunjungan atau besukan, Wartelsuspas, dapur warga binaan, blok hunian perempuan, blok lansia, area lapangan hingga tempat ibadah.

Setiap titik ditinjau untuk memastikan fungsi pelayanan dan pembinaan berjalan sekaligus melihat kondisi sarana dan prasarana yang menjadi bagian dari operasional Rutan Masamba.

Namun, di balik kunjungan tersebut terdapat satu pesan yang menjadi penekanan utama Mulyadi kepada jajarannya: situasi yang aman tidak boleh melahirkan rasa lengah.

Usai peninjauan lapangan, Mulyadi memberikan pengarahan dan penguatan tugas serta fungsi kepada seluruh jajaran Rutan Masamba.

Karutan, pejabat struktural, staf hingga petugas pengamanan mengikuti pengarahan tersebut.

Mulyadi mengapresiasi kondisi Rutan Masamba yang tetap aman dan kondusif. Ia juga memberikan perhatian terhadap sinergi antara pimpinan dan jajaran pegawai yang dinilai menjadi modal penting dalam menjaga pelaksanaan tugas.

Tetapi, ia mengingatkan bahwa situasi kondusif bukan jaminan bahwa gangguan keamanan tidak akan terjadi.

Pemahaman terhadap standar operasional prosedur (SOP) harus terus diperkuat dan dievaluasi, terutama menyangkut pengamanan, pengawalan serta titik-titik yang berpotensi menjadi celah terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban.

Bagi Mulyadi, kewaspadaan tidak boleh hanya muncul ketika persoalan telah terjadi. Justru ketika kondisi aman, disiplin pengamanan harus semakin dijaga.

Penugasan di Daerah Bukan Alasan Menurunkan Standar

Dalam arahannya, Mulyadi turut mengingatkan jajaran mengenai karakteristik penugasan di wilayah yang jauh dari pusat kota.

Menurutnya, bertugas di daerah merupakan bagian dari dedikasi dan tanggung jawab profesional. Karena itu, kondisi geografis tidak boleh dijadikan alasan untuk mengurangi kualitas kinerja.

Petugas dituntut memiliki kesiapan, kemandirian dan komitmen dalam menjalankan tugas pemasyarakatan.

Profesionalisme, kata dia, harus tetap menjadi standar, di mana pun seorang petugas ditempatkan.

Mulyadi Tegaskan: Tidak Ada Ruang untuk Kekerasan

Pesan Mulyadi kemudian bergeser pada aspek yang tidak kalah penting: bagaimana petugas memperlakukan warga binaan.

Ia menegaskan bahwa pendekatan humanis harus berjalan seiring dengan ketegasan dalam menegakkan aturan.

Tidak ada ruang bagi tindakan pemukulan, kekerasan fisik maupun intimidasi terhadap warga binaan.

Petugas harus mampu membedakan antara ketegasan dan kekerasan.

Ketegasan dibutuhkan untuk memastikan aturan dipatuhi. Namun, pelaksanaannya tetap harus berada dalam koridor profesionalisme dan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan.

“Tegas dalam aturan, namun tetap manusiawi dalam sikap,” tegas Mulyadi.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam penguatan jajaran Rutan Masamba.

Bagi sistem pemasyarakatan, pendekatan humanis bukan berarti menghilangkan ketegasan. Sebaliknya, keduanya harus berjalan bersama untuk menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang aman sekaligus tetap menghormati hak dan martabat warga binaan.

Rangkaian kunjungan Mulyadi kemudian bergerak ke Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Warga Binaan Rutan Masamba.

Di tempat tersebut, Mulyadi melihat langsung pelaksanaan program pembinaan kemandirian yang dijalankan warga binaan.

SAE menjadi ruang penting untuk memastikan pembinaan tidak berhenti pada aktivitas di dalam blok hunian.

Melalui program pembinaan kemandirian, warga binaan diarahkan memperoleh pengalaman dan keterampilan yang dapat menjadi bekal ketika masa pidana berakhir dan mereka kembali ke tengah masyarakat.

Di titik ini, pesan kunjungan Mulyadi menjadi semakin jelas.

Pemasyarakatan bukan hanya tentang menjaga seseorang tetap berada di balik tembok rutan. Pemasyarakatan juga tentang mempersiapkan mereka agar mampu kembali menjalani kehidupan secara lebih baik setelah keluar.

Karena itu, keamanan, pelayanan dan pembinaan harus berjalan dalam satu garis yang sama.

Dari blok hunian hingga SAE, seluruh proses tersebut menjadi bagian dari mata rantai pemasyarakatan yang saling berkaitan.

Rutan harus aman. Pelayanan harus profesional. Petugas harus humanis. Dan pembinaan harus menghasilkan bekal nyata bagi warga binaan.

Karutan Masamba Syamsul Bahri bersama seluruh jajaran menyambut kunjungan dan penguatan tersebut sebagai momentum untuk terus melakukan pembenahan serta meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas.

Kunjungan Kakanwil Ditjenpas Sulsel tersebut pada akhirnya bukan sekadar inspeksi fasilitas.

Lebih dari itu, kunjungan tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas pemasyarakatan ditentukan oleh keseimbangan antara kewaspadaan, profesionalisme, kemanusiaan dan keberhasilan pembinaan. (***).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini