Konsisten Dampingi Perubahan, Rutan Makassar Kembali Gelar Program Hapus Tato
MAKASSAR, MATANUSANTARA — Komitmen membangun pembinaan yang humanis terus ditunjukkan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Makassar. Bersama Yayasan Makassar Hijrah Tanpa Nama (Mahtan), Rutan Makassar kembali menggelar program hapus tato bagi warga binaan sebagai bagian dari pembinaan kepribadian yang berorientasi pada perubahan sikap, pemulihan kepercayaan diri, dan kesiapan kembali berintegrasi dengan masyarakat, Sabtu (18/7/2026).
Program ini tidak diposisikan sekadar sebagai layanan penghapusan tato, melainkan menjadi simbol nyata transformasi diri. Bagi sebagian warga binaan, tato merupakan bagian dari masa lalu yang ingin ditinggalkan. Melalui pendampingan yang berkelanjutan, mereka diberikan ruang untuk memulai lembaran baru sekaligus memperkuat kesiapan mental, spiritual, dan sosial menjelang kembali ke lingkungan masyarakat.
Kepala Seksi Pelayanan Tahanan Rutan Kelas I Makassar, Rustanto, menegaskan bahwa pembinaan di lingkungan pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada aspek administratif dan keamanan, tetapi juga menyentuh proses perubahan karakter warga binaan.
“Program ini bukan hanya tentang menghapus tato, tetapi juga memberikan ruang bagi warga binaan untuk memulai kembali. Kami ingin terus mendampingi setiap proses perubahan agar mereka lebih percaya diri dalam menata masa depan,” ujar Rustanto.
Menurutnya, keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari selesainya masa pidana, tetapi juga dari kesiapan warga binaan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat.
Sementara itu, Kepala Subseksi Bantuan Hukum dan Penyuluhan, Djanwar Bakkara, mengapresiasi konsistensi Yayasan Mahtan yang terus menjadi mitra strategis Rutan Makassar dalam menghadirkan program-program pembinaan yang berdampak langsung bagi warga binaan.
“Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam memberikan kesempatan kepada warga binaan yang ingin memperbaiki diri. Setiap langkah perubahan harus didukung, karena mereka juga memiliki hak dan kesempatan untuk menata kehidupan yang lebih baik,” ungkap Djanwar.
Baginya, sinergi antara lembaga pemasyarakatan dan elemen masyarakat menjadi faktor penting dalam mewujudkan sistem pemasyarakatan yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjalani pidana, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan rehabilitasi sosial.
Rasa syukur juga disampaikan salah seorang warga binaan yang mengikuti program tersebut. Ia mengaku kesempatan menghapus tato memiliki makna yang jauh lebih besar daripada perubahan penampilan fisik.
“Bagi saya, ini bukan hanya tentang menghapus tato, tetapi juga tentang meninggalkan masa lalu dan memulai lembaran baru. Saya berterima kasih kepada Rutan Makassar dan Mahtan yang telah memberikan kesempatan ini,” tuturnya.
Program hapus tato menjadi salah satu inovasi pembinaan kepribadian yang secara konsisten dijalankan Rutan Kelas I Makassar sebagai bagian dari implementasi sistem pemasyarakatan yang menitikberatkan pada proses pembinaan dan reintegrasi sosial.
Melalui pendekatan tersebut, warga binaan didorong untuk membangun kembali rasa percaya diri, memperbaiki kualitas diri, serta memiliki bekal moral dan mental ketika kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Dengan keberlanjutan program ini, Rutan Kelas I Makassar menegaskan bahwa perubahan tidak lahir secara instan. Perubahan dimulai dari keberanian mengambil langkah pertama, kemudian dijaga melalui pendampingan yang berkesinambungan hingga warga binaan benar-benar siap menjadi pribadi yang lebih baik.
“Hapus Tato, Buka Jalan Menuju Perubahan.” (***).

Tinggalkan Balasan