MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

Pengajian Rutin Rutan Makassar Jadi Instrumen Pembinaan Mental Warga Binaan

Warga binaan Rutan Kelas I Makassar mengikuti pengajian rutin sebagai bagian dari pembinaan mental dan spiritual.

MAKASSAR, MATANUSANTARA — Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Makassar terus mengintensifkan pembinaan kepribadian berbasis spiritual sebagai bagian dari strategi pemasyarakatan yang berorientasi pada rehabilitasi. Salah satu program yang dijalankan secara konsisten adalah pengajian rutin bagi warga binaan, yang kini dinilai semakin berdampak pada pembentukan karakter dan kesadaran diri.

Program ini tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi dirancang sebagai ruang pembinaan mental yang sistematis dan berkelanjutan. Di tengah keterbatasan ruang gerak, pendekatan spiritual justru menjadi instrumen efektif dalam membangun ketahanan batin serta menginternalisasi nilai-nilai moral.

Dalam pelaksanaannya, warga binaan mengikuti rangkaian kegiatan secara khusyuk, dimulai dari pembacaan ayat suci Al-Qur’an, ceramah keagamaan, hingga sesi refleksi diri. Pola ini dirancang untuk menyentuh aspek kognitif, afektif, hingga kesadaran personal atas kesalahan masa lalu.

Materi yang disampaikan menitikberatkan pada penguatan iman, kesabaran dalam menjalani proses hukum, serta motivasi untuk melakukan transformasi diri secara menyeluruh. Pendekatan ini dinilai relevan dalam mendorong perubahan perilaku yang tidak bersifat sementara, melainkan berkelanjutan.

Kepala Rutan Kelas I Makassar menegaskan bahwa pembinaan spiritual merupakan bagian integral dari sistem pemasyarakatan yang tidak hanya berfokus pada pengamanan, tetapi juga pemulihan kualitas manusia.

“Melalui pengajian rutin ini, kami berharap warga binaan dapat menata diri, memperbaiki sikap, serta memiliki pegangan hidup yang lebih kuat berdasarkan nilai-nilai keimanan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa penguatan nilai spiritual menjadi fondasi penting dalam menekan potensi residivisme, sekaligus membentuk kesiapan warga binaan untuk kembali berinteraksi secara sehat di tengah masyarakat.

Lebih jauh, kegiatan ini juga berfungsi sebagai ruang introspeksi yang membuka kesadaran kritis warga binaan terhadap pilihan hidup yang pernah diambil. Dari titik inilah, proses perubahan mulai dibangun secara bertahap.

Dalam perspektif pemasyarakatan modern, pendekatan humanis menjadi kunci. Pembinaan tidak lagi dimaknai sebatas menjalani masa hukuman, tetapi sebagai proses rekonstruksi diri yang menyentuh aspek mental, moral, dan spiritual secara utuh.

Rutan Makassar, melalui konsistensi program ini, menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan sistem pembinaan yang tidak hanya represif, tetapi juga transformatif. Hal ini sejalan dengan tujuan pemasyarakatan, yakni mengembalikan warga binaan sebagai individu yang lebih baik dan produktif.

Di balik jeruji, proses penataan diri terus berlangsung menguatkan iman, membangun kesadaran, dan menyiapkan langkah baru menuju kehidupan yang lebih bermakna. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini