Saat Warga Binaan Memohon Hujan, Khutbah Istisqa di Rutan Masamba Bicara Kerusakan Alam
MASAMBA, MATANUSANTARA — Puluhan jamaah di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Masamba menengadahkan tangan, memohon turunnya hujan di tengah musim kemarau. Namun, Salat Istisqa yang digelar di Masjid Al-Hijrah Rutan Masamba, Jumat (18/9/2026), membawa pesan yang lebih luas: manusia diajak menengok kembali perilakunya terhadap alam.
Salat Istisqa yang dimulai pukul 09.00 Wita tersebut diikuti jajaran petugas, Dharma Wanita Persatuan (DWP), peserta magang, serta warga binaan pemasyarakatan (WBP) beragama Islam. Suasana berlangsung khusyuk hingga rangkaian ibadah dilanjutkan dengan pencerahan rohani dan khutbah Istisqa.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Salat Istisqa dilaksanakan sebagai bentuk ikhtiar spiritual menghadapi musim kemarau dan potensi kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah. Bagi Rutan Masamba, kegiatan ini sekaligus ditempatkan sebagai bagian dari pembinaan kepribadian melalui penguatan nilai-nilai keagamaan.
Namun, inti pesan tidak berhenti pada permohonan agar hujan segera turun.
Usai salat dua rakaat, KH. Muhlisin dalam khutbahnya mengajak jamaah melakukan introspeksi. Ia mengingatkan bahwa persoalan lingkungan perlu dilihat tidak hanya sebagai fenomena alam, tetapi juga dikaitkan dengan perilaku manusia dalam memperlakukan bumi.
Pesan tersebut merujuk pada firman Allah SWT dalam QS. Ar-Rum ayat 41 yang menyebut kerusakan di darat dan laut berkaitan dengan perbuatan tangan manusia. Ayat itu disampaikan sebagai pengingat agar manusia kembali mengevaluasi perilaku dan memperbaiki hubungan dengan lingkungan.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Dalam khutbah tersebut, jamaah juga diajak meningkatkan ketakwaan, memperbanyak istighfar, memperbaiki perilaku, serta membangun kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Pesan itu membuat pelaksanaan Salat Istisqa di Rutan Masamba memiliki dimensi pembinaan yang lebih luas. Hujan memang menjadi permohonan utama, tetapi kondisi kekeringan sekaligus dijadikan ruang untuk mengingatkan manusia mengenai tanggung jawab menjaga lingkungan.
Bagi warga binaan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan ibadah. Nilai-nilai yang disampaikan dalam khutbah diarahkan untuk membangun kesadaran, refleksi diri, dan dorongan memperbaiki perilaku.
Sementara itu, doa bersama menjadi penutup rangkaian ikhtiar spiritual tersebut. Jamaah memohon agar hujan segera turun dan membawa keberkahan, sekaligus memanjatkan doa untuk keselamatan dan kebaikan masyarakat.
Dari halaman Rutan Masamba, pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut menjadi sederhana tetapi mendasar: memohon hujan adalah bentuk ikhtiar spiritual, sementara menjaga alam dan memperbaiki perilaku merupakan bagian dari tanggung jawab manusia.
Karena itu, Salat Istisqa di Rutan Kelas IIB Masamba tidak sekadar menjadi agenda keagamaan. Kegiatan tersebut menjadi momentum pembinaan dan introspeksi, menghubungkan doa tentang hujan dengan pesan tentang ketakwaan, perbaikan diri, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Tinggalkan Balasan