Amerika Serikat Tangkap Presiden Maduro, Trump Klaim Kendalikan Venezuela Sementara
WASHINGTON, MATANUSANTARA –Gempa politik mengguncang Venezuela. Militer Amerika Serikat menangkap Presiden Nicolas Maduro dalam operasi mendadak pada Sabtu (3/1/2026) dinihari.
Penangkapan tersebut, membuat pemerintahan Caracas nyaris lumpuh dan memicu ketidakpastian politik di seluruh Amerika Latin.
Presiden AS, Donald Trump, secara terbuka menyatakan akan memimpin Venezuela sementara waktu dan memanfaatkan cadangan minyak negara tersebut.
“Kami akan menjalankan negara ini sampai saatnya dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana,” kata Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, dikutip Katadata.co.id dari Associated Press, Sabtu (4/1/2026).
Trump Klaim Hancurkan Kapal Selundupan Narkoba di Karibia, Dunia Heboh Soal Legalitas Serangan
Maduro kini menghadapi tuduhan serius dari Departemen Kehakiman AS terkait terorisme narkoba pada 2020. Ia dijadwalkan hadir dalam sidang federal pertamanya pada Senin (5/1/2026), menghadapi dakwaan konspirasi terorisme narkoba, impor kokain, dan dua dakwaan kepemilikan senjata ilegal.
Tuduhan ini menyoroti dugaan keterlibatan Maduro dalam pengiriman berton-ton kokain ke AS selama beberapa dekade.
Istri Maduro, Cilia Flores, diperkirakan akan hadir dalam sidang perdana, yang akan dipimpin oleh Hakim Alvin K. Hellerstein.
Di Caracas, Mahkamah Agung Venezuela segera menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodríguez sebagai presiden sementara.
“Untuk menjamin kesinambungan administrasi dan pertahanan komprehensif negara,” bunyi putusan Mahkamah Agung dikutip dari Reuters, Minggu (4/1/2026).
Nama Departemen Perang Kembali Diusulkan Trump, Begini Reaksi Tammy Duckworth
Latar belakang operasi ini bukan sekadar hukum. Analisis geopolitik menunjukkan Amerika Serikat bergerak untuk mengamankan kontrol strategis atas cadangan minyak Venezuela yang terbesar di dunia, sebesar 303,22 miliar barel atau 19% dari total cadangan global 1,57 triliun barel pada 2024, menurut data OPEC. AS sendiri menjadi pembeli utama minyak Venezuela, senilai US$5,88 miliar atau 60% dari total ekspor minyak mentah negara itu.
Meskipun kaya minyak, volume ekspor Venezuela tercatat kecil, sehingga penguasaan cadangan ini memberi AS keuntungan strategis signifikan. Langkah ini menegaskan dominasi energi sebagai salah satu pendorong utama tindakan politik dan militer di kawasan.
Penangkapan Maduro tidak hanya mengguncang Venezuela, tetapi juga memicu gelombang ketidakpastian global, menimbulkan spekulasi tentang konflik geopolitik baru, dan mempertegas peran minyak sebagai senjata diplomasi dan kekuasaan internasional. (RAM)
Sumber: Databoks.id/Katadata.co.id

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan