Breaking News: Video Pria Ngaku TNI Terbongkar di Aksi Amarah UMI, Dugaan Paksaan Oknum Brimob Mencuat
MAKASSAR, MATANUSANTARA — Narasi viral yang menyeret nama Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam kericuhan aksi demonstrasi di depan Universitas Muslim Indonesia (UMI) pada 24 April 2026 mulai terurai. Fakta terbaru mengarah pada dugaan praktik pemaksaan pengakuan oleh oknum Brimob saat proses pengamanan berlangsung.
Fakta ini mencuat setelah Komandan Batalyon Infanteri 700 Wira Yudha Sakti, Letkol Inf Iwan Sunarya, turun langsung mendatangi kediaman Syuaib (22) di Jalan Balana, Kecamatan Makassar, Kota Makassar, Sabtu (25/04/2026).
Kehadiran Danyon 700 menjadi titik klarifikasi atas video viral yang sebelumnya memperlihatkan seorang pria mengaku sebagai anggota TNI dari Batalyon Infanteri 700 Raider Wira Yudha Sakti, jajaran Kodam XIV/Hasanuddin.
“Saya Komandan Batalyon Infanteri 700 Wira Yudha Sakti, Kodam XIV/Hasanuddin. Pada kesempatan ini saya akan mengklarifikasi terkait adanya video yang beredar di beberapa media sosial yang menyebutkan bahwa ada oknum anggota kami yang terlibat dalam kerusuhan pada kegiatan demonstrasi di depan Universitas Muslim Indonesia pada tanggal 24 April 2026,” ujar Letkol Inf Iwan yang dikutip melalui video klarifikasi yang diterima redaksi matanusantara.co.id, Sabtu (25/04)
Penegasan disampaikan secara lugas bahwa pria dalam video tersebut bukan bagian dari institusi TNI.
“Saya tegaskan bahwasanya personel tersebut bukan anggota kami. Dan saat ini kami sedang bersama yang bersangkutan atas nama saudara Syuaib yang akan menjelaskan tentang kronologi bagaimana kejadian pada malam tanggal 24 April 2026 kemarin. Silakan,” tegasnya.
Pengakuan Syuaib kemudian menjadi titik balik yang menggeser arah isu. Ia menegaskan dirinya hanyalah warga sipil yang berada di lokasi secara kebetulan.
“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Saya atas nama Syuaib ingin mengklarifikasi atau menceritakan kejadian tanggal 24 kemarin. Pada saat itu saya mengunjungi Mall Nipah buat nonton konser. Setelah sampai, saya keluar sembari menunggu artis yang di Mall Nipah. Setelah itu saya keluar buat lihat ada kerumunan di depan UMI (Universitas Muslim Indonesia). Karena itu, saya menuju ke gerbang UMI buat masuk,” ungkapnya
Situasi berubah saat dirinya berada di dalam area kampus dan berhadapan langsung dengan aparat.
“Setelah saya masuk, tidak jauh dari gerbang, sudah didatangi sama Brimob buat diminta identitas. Setelah itu saya kasih identitas, ternyata dia menolak untuk melihatnya serta memaksa saya untuk mengaku sebagai anggota TNI.”
Pernyataan ini menjadi indikasi kuat adanya dugaan penyimpangan prosedur oleh oknum Brimob, khususnya dalam tahapan verifikasi identitas terhadap warga sipil.
Alih-alih melakukan pemeriksaan objektif, aparat justru diduga membentuk pengakuan yang tidak sesuai fakta, yang kemudian berpotensi memicu narasi menyesatkan di ruang publik.
Ia juga menjelaskan bahwa atribut yang dikenakan tidak berkaitan dengan institusi.
“Terkait kaos ini, saya membelinya di Shopee seharga 113 (ribu). Saya membelinya karena rasa cinta kepada TNI Angkatan Darat.” kata Syuaib.
Di tengah memanasnya isu, mahasiswa Fakultas Hukum UMI mengeluarkan sikap tegas yang memperkuat tekanan terhadap transparansi aparat.
Syarif menilai tuduhan keterlibatan TNI tanpa dasar sebagai bentuk pernyataan yang prematur dan berpotensi menyesatkan publik. (***)

Tinggalkan Balasan