Kapolsek Bontoala Tepis Isu Dugaan Penembakan Berujung Maut di Kandea hingga Pembakaran Posko
MAKASSAR, MATANUSANTARA — Peristiwa penembakan menewaskan Rafli Ramadhani alias Penge (18), di kawasan Lorong Almarkaz, Kelurahan Lembo, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Minggu sekitar pukul 02.00 WITA. Peristiwa tersebut kemudian diikuti aksi penyerangan dan pembakaran kendaraan di sebuah posko mitigasi.
Berdasarkan hasil wawancara bersama Kapolsek Bontoala Kompol Abdul Samad., Ia menepis isu yang menyebut personel Polsek Bontoala diduga terlibat dalam penembakan terhadap Rafli.
“Tidak ada. Tidak ada. Itu tidak benar isunya,” tegasnya kepada Matanusantara.co.id saat dikonfirmasi mengenai dugaan tersebut, Minggu (27/09).
Kompol Abdul Samad, mengatakan saat kejadian personel Polsek Bontoala tidak berada di lokasi tempat Rafli dilaporkan terkena tembakan.
Ia menjelaskan, personel Polsek Bontoala saat itu terbagi dalam dua kelompok pengamanan. Sebagian berada di kawasan Jalan Bandang, sementara kelompok lainnya berada di Jalan Bawakaraeng.
Lebih jauh Kompol Abdul Samad, menjelaskan bahwa dirinya merupakan salah satu pihak yang pertama datang setelah memperoleh informasi mengenai situasi di sekitar lokasi.
Namun, ia mengaku tidak sampai masuk ke lokasi karena mendapat peringatan dari personel Polsek Tallo terkait adanya ancaman busur.
“Saya yang pertama datang, tapi itu pun tidak sampai ke lokasi karena ditahan sama anggota Tallo. ‘Satu kali lagi jangan ki ke sana karena ada busur-busur’,” ujarnya.
Kompol Abdul Samad kemudian menghubungi personelnya untuk memastikan keberadaan mereka.
“Saya telepon anggotaku, bilang ‘Saya di Bawakaraeng, Komandan’. Saya telepon lagi yang satunya kelompok dua, bilang ‘Saya di Jalan Bandang’,” tuturnya.
Saat kembali ditanya mengenai keberadaan personel Polsek Bontoala di lokasi penembakan, Kompol Abdul Samad menegaskan tidak ada anggotanya di lokasi.
“Tidak ada. Iya, saya jamin,” katanya.
Sementara itu, berdasarkan keterangan pihak keluarga, Rafli saat kejadian sedang berkumpul bersama teman-temannya di sekitar lorong.
Korban disebut tidak mengetahui persoalan maupun aksi kejar-kejaran yang terjadi di sekitar lokasi.
Tidak lama kemudian, warga melihat sepeda motor yang saling kejar memasuki kawasan lorong tersebut. Dalam situasi itu terdengar suara tembakan dan Rafli kemudian dilaporkan terkena tembakan.
Korban mengalami luka pada bagian punggung belakang sebelah kiri. Menurut keterangan keluarga, luka tersebut menembus hingga mengenai bagian jantung.
Rafli kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Angkatan Laut Jala Ammari, Kodaeral VI untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
Pihak keluarga kemudian mengaku berupaya mencari informasi mengenai peristiwa tersebut dengan menanyakan kejadian kepada pihak Polsek Tallo dan Polsek Bontoala.
Keluarga menyebut belum mendapatkan penjelasan mengenai pihak yang melepaskan tembakan.
“Jadi siapa yang menembak anakku? Kenapa tidak ada yang mengetahui siapa yang menembak anakku?” ujar pihak keluarga.
Ketika dikonfirmasi mengenai foto luka pada bagian belakang tubuh korban yang beredar di media sosial, Kompol Abdul Samad mengatakan pihaknya belum mengetahui penyebab luka tersebut.
“Kami tidak tahu itu ya,” katanya.
Menurut Kompol Abdul Samad, pihaknya baru mengetahui adanya korban meninggal setelah mendapat informasi dari anggota sekitar pukul 04.00 WITA.
Korban kemudian diketahui telah dibawa ke Rumah Sakit Angkatan Laut Jala Ammari.
Rangkaian kejadian kemudian berlanjut dengan penyerangan terhadap sebuah posko mitigasi. Dalam aksi tersebut, kendaraan anggota yang berada di sekitar posko disebut turut terbakar.
Kompol Abdul Samad mengatakan informasi yang menyebut Polsek Bontoala sebagai pihak yang melakukan penembakan kemungkinan menjadi salah satu pemicu aksi penyerangan tersebut.
“Iya, kemungkinan itu, karena dia mengatakan bahwa Polsek Bontoala yang menembak. Dan termasuk saudaranya itu mengatakan ke saya bahwa Polsek Bontoala yang menembak. Nah, mungkin dengan provokasi itu sehingga dia serang posko mitigasi, sehingga terbakar itu motornya anggota yang piket,” ungkapnya.
Menurutnya, penyerangan tersebut terjadi sekitar pukul 04.17 WITA.
Saat kejadian, sejumlah anggota disebut berada di dalam posko. Setelah terjadi pelemparan, anggota kemudian diminta keluar dari posko.
“Cepat keluar! Cepat keluar!” demikian perintah yang disebut disampaikan kepada anggota.
Kompol Abdul Samad mengatakan personel kemudian keluar melalui bagian belakang posko.
“Kalau kami lihat itu dari jauh, ratusan orang,” katanya ketika ditanya mengenai jumlah massa yang melakukan penyerangan.
Ia mengatakan warga di sekitar lokasi telah diarahkan untuk tetap berada di rumah.
Dalam wawancara tersebut, Kompol Abdul Samad juga menyampaikan bahwa dugaan penembakan telah ditangani Propam.
“Sudah. Sudah semua,” ujarnya ketika ditanya mengenai penanganan dugaan penembakan oleh Propam.
Kompol Abdul Samad juga mengimbau masyarakat tidak terprovokasi oleh informasi yang menyebut Polsek Bontoala sebagai pihak yang melakukan penembakan.
“Saran saya, tentunya jangan terprovokasi berkaitan masalah bahwa Polsek Bontoala yang menembak,” katanya.
Ia juga mengajak tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh pemuda untuk bersama-sama menjaga keamanan wilayah.
“Kami menghimbau kepada seluruh tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, mari kita sama-sama mengamankan wilayah. Karena ini tidak ada untungnya,” ujarnya.
Hingga berita ini disusun, proses penanganan dugaan penembakan disebut telah ditangani Propam. (***).

Tinggalkan Balasan