MATANUSANTARA.CO.ID

Faktual, Tajam, Terpercaya

Sumpah Pemuda 2026, MATADOR Desak Perang Kelompok Makassar Diakhiri

Karaeng Emba dari Makassar Tidak Kendor (MATADOR) menyerukan persatuan pemuda dan kolaborasi dengan aparat penegak hukum untuk mencegah kriminalitas jalanan serta mengakhiri perang kelompok di Makassar menjelang Hari Sumpah Pemuda 2026.

MAKASSAR, MATANUSANTARA — Peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026 seharusnya menjadi momentum memperkuat persatuan, bukan sekadar seremoni tahunan. Di tengah persoalan kriminalitas jalanan, aksi geng motor, dan perang kelompok yang menjadi perhatian masyarakat, Makassar Tidak Kendor (MATADOR) menyerukan gerakan bersama untuk memulihkan rasa aman sekaligus menghentikan siklus kekerasan di Kota Makassar.

Melalui Karaeng Emba, MATADOR mengajak pemuda, mahasiswa, pelajar, dan seluruh elemen masyarakat menjadikan semangat Sumpah Pemuda sebagai landasan untuk mempererat persaudaraan, mengevaluasi diri, serta mengambil peran nyata dalam menjaga keamanan lingkungan.

Menurut Karaeng Emba, persoalan kriminalitas jalanan dan konflik antarkelompok tidak boleh dipandang sebagai masalah yang hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum. Keterlibatan masyarakat, terutama generasi muda, dinilai penting untuk mencegah konflik berkembang menjadi kekerasan yang mengancam keselamatan dan ketenteraman warga.

Keresahan terhadap situasi keamanan, termasuk kekhawatiran masyarakat ketika beraktivitas pada malam hari, menjadi alasan pentingnya membangun kolaborasi antara aparat, organisasi masyarakat, tokoh pemuda, dan lingkungan keluarga.

“Persoalan perang kelompok ini tidak boleh berlarut apalagi dibiarkan sampai menelan banyak korban, sebagai putra daerah Sulawesi Selatan kita harus menyatu dan mengambil sikap untuk menjadi lebih baik,” tegas Karaeng Emba.

Pernyataan tersebut menjadi seruan agar penyelesaian konflik tidak berhenti pada kecaman setelah insiden terjadi. Upaya pencegahan perlu dibangun melalui komunikasi, pendekatan sosial, edukasi, dan langkah konkret yang melibatkan kelompok pemuda secara berkelanjutan.

Karaeng Emba menyatakan MATADOR berkomitmen mengawal dan membantu menyosialisasikan program Kapolda Sulawesi Selatan yang disebut mengusung pendekatan EWAKO, dengan nilai Empati, Waspada, Adil, dan Kolaborasi.

Komitmen tersebut, menurutnya, akan diarahkan pada kegiatan yang mendukung pencegahan kriminalitas, penguatan kesadaran masyarakat, serta upaya meredam potensi bentrokan antarkelompok.

Bagi MATADOR, kolaborasi dengan kepolisian perlu diterjemahkan ke dalam agenda yang dapat menyentuh persoalan di tingkat lingkungan. Sosialisasi, dialog antarkelompok, pembinaan pemuda, dan penguatan komunikasi masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan, sepanjang dirancang bersama pihak terkait dan dilaksanakan secara konsisten.

Karaeng Emba menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan sekadar pesan di ruang publik, melainkan bentuk kepedulian terhadap keselamatan masyarakat dan masa depan generasi muda Sulawesi Selatan.

Ia berharap masyarakat dapat menyatukan langkah untuk memperkuat persaudaraan, menghindari provokasi, serta menolak tindakan yang berpotensi memecah belah sesama anak bangsa.

Dalam keterangannya, Karaeng Emba mengungkapkan bahwa MATADOR telah berkoordinasi dengan Kapolda Sulawesi Selatan dan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sulsel beberapa hari sebelumnya.

Koordinasi tersebut disebut berlangsung dalam momentum perdamaian kelompok yang bertikai, yakni JORJORAN dan LONNER (ABLAM), di Polda Sulsel.

Menurut Karaeng Emba, MATADOR berencana menyusun agenda lanjutan untuk berkolaborasi dalam program pencegahan tindak kriminal dan konflik antarkelompok.

Rencana itu menjadi penting karena perdamaian yang berkelanjutan membutuhkan lebih dari sekadar pertemuan atau kesepakatan sesaat. Diperlukan komunikasi yang terjaga, keterlibatan pihak-pihak terkait, serta mekanisme untuk meredam potensi gesekan sebelum berkembang menjadi bentrokan.

Meski demikian, rincian agenda, jadwal pelaksanaan, pihak yang akan dilibatkan, dan bentuk program yang direncanakan belum dijelaskan secara terperinci dalam keterangan yang tersedia.

Konfirmasi mengenai tindak lanjut koordinasi tersebut diperlukan agar publik dapat mengetahui sejauh mana komitmen yang disampaikan akan diwujudkan dalam kegiatan nyata.

Momentum Sumpah Pemuda juga menjadi pengingat bahwa perbedaan latar belakang, lingkungan pergaulan, maupun identitas kelompok tidak seharusnya menjadi alasan untuk melakukan kekerasan.

Pemuda memiliki ruang besar untuk berkontribusi dalam membangun lingkungan yang aman melalui kegiatan produktif, dialog, solidaritas sosial, dan penolakan terhadap ajakan tawuran.

Di sisi lain, penanganan kriminalitas tetap membutuhkan penegakan hukum yang profesional dan adil. Upaya perdamaian sosial tidak boleh menghilangkan akuntabilitas atas tindak pidana yang terjadi, sementara proses hukum harus berjalan berdasarkan bukti dan ketentuan yang berlaku.

Pendekatan pencegahan dan penegakan hukum perlu berjalan beriringan: konflik dicegah sedini mungkin, masyarakat dilibatkan secara bertanggung jawab, dan setiap dugaan tindak pidana ditangani sesuai prosedur.

Karaeng Emba mengajak seluruh elemen masyarakat mengesampingkan ego kelompok dan membangun solidaritas untuk Sulawesi Selatan yang lebih aman, dengan mengedepankan nilai empati, kewaspadaan, keadilan, dan kolaborasi.

Seruan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pesan menjelang peringatan 28 Oktober, tetapi berkembang menjadi komitmen bersama untuk menjaga keamanan serta mencegah jatuhnya korban akibat konflik jalanan.

Sumpah Pemuda tidak cukup diperingati melalui seremoni dan slogan. Semangat persatuan harus hadir dalam tindakan nyata: menghentikan kekerasan, menjaga persaudaraan, dan memastikan masyarakat dapat beraktivitas tanpa dibayangi ketakutan. (***).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini