Kisah Maraqdia Pamboang: Jejak Awal Kekuasaan dari Pesisir Mandar
MAKASSAR, MATANUSANTARA — Angin laut Pamboang berembus pelan, membawa bau asin dan cerita lama yang tak seluruhnya tercatat. Di pesisir Mandar inilah, jauh sebelum peta kolonial memberi nama dan batas, kekuasaan kecil namun berpengaruh mulai bertunas kelak dikenal sebagai Kerajaan Maraqdia Pamboang.
Secara geografis, Pamboang menempati posisi strategis di jalur pesisir barat Sulawesi. Laut menjadi halaman depan, daratan berbukit sebagai benteng alami.
Kombinasi ini menjadikan Pamboang bukan sekadar tempat singgah, melainkan simpul interaksi dagang, budaya, dan kekuasaan. Di wilayah seperti inilah, kerajaan-kerajaan pesisir kerap lahir lentur dalam diplomasi, tangguh saat terdesak.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa istilah maraqdia dalam tradisi Mandar merujuk pada pemimpin yang bukan hanya memerintah, tetapi memayungi adat.
Kekuasaan tidak berdiri di atas pedang semata, melainkan pada kemampuan menjaga keseimbangan antara laut, tanah, dan manusia. Dari sinilah Pamboang mulai membangun identitas politiknya.
Dalam tuturan lisan masyarakat Pamboang, awal berdirinya kerajaan kerap dikisahkan melalui sosok pemimpin yang datang pada masa ketidakpastian. Ia tidak langsung disebut raja. Ia diuji oleh adat, diterima oleh komunitas pesisir, dan disahkan oleh kesepakatan para pemangku kepentingan lokal. Legitimasi lahir dari konsensus bukan penaklukan terbuka.
Wilayah kekuasaan awal Maraqdia Pamboang diyakini tidak luas, namun cukup untuk mengontrol jalur laut dan sumber daya pesisir. Garam, ikan, dan hasil bumi menjadi nadi ekonomi. Kapal-kapal kecil berlabuh, membawa kabar dari kerajaan tetangga dan mempertemukan Pamboang dengan dinamika regional Mandar.
Interpretasi penulis menempatkan fase awal ini sebagai periode konsolidasi sunyi. Tidak banyak perang besar dicatat, justru diplomasi dan ikatan kekerabatan menjadi alat utama. Inilah pola umum kerajaan pesisir Mandar: bertahan dengan kecerdikan, bukan semata kekuatan.
Seiring waktu, struktur kekuasaan mulai mengeras. Adat ditata, garis kepemimpinan disusun, dan nama-nama tokoh mulai disebut dalam silsilah. Pada titik inilah Pamboang bergerak dari komunitas pesisir menjadi entitas politik yang diakui.
Namun, setiap kelahiran kekuasaan menyimpan pertanyaan. Siapa figur awal yang benar-benar memegang tampuk kepemimpinan? Dari mana asal-usul darah penguasa pertama? Dan bagaimana proses pengesahan adat itu berlangsung secara rinci?
Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi pintu masuk ke kisah berikutnya. Sebab, untuk memahami Pamboang, kita harus membaca peta kekuasaannya bukan hanya dari cerita, tetapi dari wilayah yang ia kuasai.
Catatan Editorial:
Tulisan ini disusun dari tuturan lisan masyarakat Pamboang, catatan silsilah lokal, serta kajian sejarah Mandar. Perbedaan versi dimungkinkan sebagai bagian dari dinamika sejarah lisan.
Bersambung
(RAM)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan