Kisah Maraqdia Pamboang 5: Api dalam Istana, Saat Kesetiaan Diam-Diam Berpindah
MAKASSAR, MATANUSANTARA — Halo Sobat Mata Nusantara, kita kembali lagi menelusuri jejak Kerajaan Maraqdia Pamboang. Jika pada kisah sebelumnya kita menyaksikan keteguhan Maraqdia menjaga adat dari tekanan luar, maka pada bagian kelima ini sejarah membawa kita ke babak yang lebih berbahaya: saat ancaman tidak lagi datang dari laut, melainkan tumbuh di dalam istana.
Kerajaan Pamboang memasuki fase genting. Ketegasan Maraqdia dalam menjaga adat dan menolak kompromi politik memang mengokohkan martabat kerajaan, tetapi di saat yang sama menumbuhkan kegelisahan di kalangan elite. Bagi sebagian bangsawan, adat mulai dianggap sebagai belenggu. Ambisi perlahan berbenturan dengan nilai.
Kisah Maraqdia Pamboang 4: Titah Sunyi Maraqdia, Saat Kedaulatan Pamboang Dipertaruhkan
Musyawarah adat yang dahulu menjadi ruang sakral mufakat berubah menjadi arena ketegangan. Senyum masih terjaga, tetapi kepercayaan mulai retak. Kata-kata disusun rapi, namun niat tak lagi sepenuhnya jujur. Di sinilah api itu mulai menyala, pelan namun pasti.
Dalam sistem Mandar, kekuasaan Maraqdia bukan kekuasaan mutlak. Ia berdiri karena kepercayaan dan kepatuhan pada ade’. Ketika kepercayaan goyah, maka singgasana pun kehilangan pijakan. Sebagian bangsawan mulai mempertanyakan arah kepemimpinan, bukan secara terbuka, melainkan melalui bisik-bisik dan pertemuan tertutup.
Kisah Maraqdia Pamboang 3: Ketika Adat Menjaga Kekuasaan di Tengah Gejolak Zaman
Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan mencatat bahwa konflik internal kerap menjadi titik balik dalam sejarah kerajaan Mandar.
“Banyak kerajaan Mandar melemah bukan karena serangan luar, tetapi karena perpecahan elite yang lahir dari pertentangan kepentingan dan tafsir terhadap adat,” tulis Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan, dikutip matanusantara.co.id, Sabtu (17/01/2026).
Kisah Maraqdia Pamboang 2: Laut, Kekuasaan, dan Ikrar Adat Mandar
Situasi kian memburuk ketika kabar tentang upaya membangun kembali aliansi luar mulai terdengar. Jalur-jalur komunikasi dibuka tanpa restu Maraqdia. Tawaran yang dulu ditolak kini dibicarakan ulang dengan bahasa berbeda: bukan demi kerajaan, melainkan demi kuasa.
Maraqdia Pamboang menyadari perubahan itu. Namun ia tidak memilih jalan keras. Dalam keyakinannya, kekuasaan yang dipertahankan dengan paksaan akan mati sebelum waktunya. Ia kembali memanggil musyawarah adat, berharap ade’ masih mampu menjadi penawar perpecahan.
Kisah Maraqdia Pamboang: Jejak Awal Kekuasaan dari Pesisir Mandar
Sayangnya, sejarah tidak selalu berpihak pada kebijaksanaan. Benih pengkhianatan yang tumbuh dalam diam sulit disembuhkan. Kesetiaan mulai berpindah, bukan kepada kerajaan, tetapi kepada kepentingan masing-masing.
Para sejarawan Mandar menilai fase ini sebagai awal kemunduran moral kekuasaan Pamboang. Kerajaan masih berdiri, Maraqdia masih bertitah, tetapi kekuatan batin yang menyatukan mulai runtuh. Dari sinilah Pamboang melangkah menuju masa yang lebih gelap, di mana adat harus berhadapan langsung dengan ambisi.
Kisah ini diwariskan sebagai peringatan. Bahwa sebesar apa pun keteguhan seorang pemimpin, ia akan rapuh jika kesetiaan tidak lagi berpihak pada nilai (Ram)
Bersambung
Sumber:
– Tradisi lisan tokoh adat Pamboang
– Lontara’ Mandar berbagai versi
– Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan