Lapas Cipinang Ubah Lahan Tidur Jadi Aset Negara Lewat Budidaya Ikan Terintegrasi
JAKARTA, MATANUSANTARA — Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang menegaskan pergeseran paradigma pemasyarakatan dari pendekatan konvensional menuju model pembinaan produktif berbasis pemanfaatan aset negara. Lahan tidur (idle) di lingkungan lapas dioptimalkan menjadi pusat budidaya ikan hias dan ikan konsumsi yang bernilai ekonomi dan berkelanjutan.
Program ini dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan pembinaan, melainkan sebagai instrumen kebijakan untuk membangun kemandirian Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), memperkuat ketahanan pangan institusional, serta menekan risiko residivisme melalui pembekalan keterampilan kerja riil.
Bekali Keterampilan Global, Lapas Cipinang Dorong Pendidikan Lewat Kursus Bahasa Jepang
Kepala Lapas (Kalapas) Kelas I Cipinang, Wachid Wibowo, menegaskan bahwa optimalisasi lahan idle merupakan langkah strategis dalam menjawab tantangan pemasyarakatan modern yang dituntut menghasilkan dampak pasca-pembebasan.
“Kami memaksimalkan lahan yang sebelumnya belum termanfaatkan. Selain fokus pada ketahanan pangan melalui budidaya ikan konsumsi seperti nila, lele, dan mujair yang telah berulang kali panen, kami juga mengembangkan budidaya ikan hias yang memiliki pasar cukup baik,” jelas Wachid, pada Kamis (5/1/2026).
Ia menyampaikan bahwa program tersebut merupakan implementasi nyata 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Tahun 2026, khususnya agenda kemandirian pangan melalui sektor pertanian, perikanan, dan peternakan di Lapas dan Rumah Tahanan Negara (Rutan) dengan menjadikan lahan idle sebagai sumber daya produktif.
Lapas Cipinang Dorong Kemandirian Warga Binaan Lewat Pembinaan CNC Craft
Pelaksanaan budidaya ikan hias dilakukan secara terukur dan berbasis keilmuan melalui pendampingan Program Pemagangan Nasional Batch 2 lintas disiplin. Pendamping berasal dari Universitas Padjadjaran (peternakan), Institut Pertanian Bogor (perikanan), serta Universitas Brawijaya (agribisnis). Kolaborasi ini memperkuat transfer pengetahuan, efisiensi produksi, serta orientasi pasar.
Kepala Bidang (Kabid) Kegiatan Kerja Lapas Cipinang, Irdiansyah Rana, menjelaskan bahwa pemilihan komoditas ikan hias mempertimbangkan keseimbangan antara kemudahan teknis dan stabilitas nilai ekonomi.
“Kami melihat potensi besar pada ikan hias seperti molly dan guppy. Perawatannya mudah, perkembangbiakannya cepat, dan hasilnya menjanjikan. Melalui skema ini, Warga Binaan belajar wirausaha secara langsung sekaligus membangun keterampilan praktis,” jelasnya.
Lapas Cipinang Optimalkan Pembinaan Tahfidz Al-Qur’an Warga Binaan
Salah seorang WBP berinisial RH menyatakan bahwa keterlibatannya dalam program tersebut memberikan kesiapan mental dan keterampilan untuk menghadapi realitas sosial setelah bebas.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Kami dilatih untuk mandiri dan berwirausaha. Semoga keterampilan ini bisa menjadi modal ketika saya bebas nanti, karena mencari pekerjaan tidak mudah, sementara di sini kami dipersiapkan untuk menjadi entrepreneur,” ujarnya.
Melalui optimalisasi lahan tidur menjadi unit produksi perikanan, Lapas Cipinang menempatkan pembinaan pemasyarakatan sebagai bagian dari ekosistem pembangunan nasional. Pendekatan ini menegaskan peran lapas tidak hanya sebagai institusi penegakan hukum, tetapi juga sebagai wahana transformasi sumber daya manusia yang produktif dan berdaya saing, sejalan dengan prinsip Pemasyarakatan PASTI Bermanfaat untuk Masyarakat. (Ragil)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan